Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

Rabu, 08 Juni 2011

Di Bawah Bayang Ibu

Siang hari itu tidak seperti biasanya. Mereka terlihat dingin. Mengerikan. Mereka pun tega menggretak ku. Angin mengancamku mereka menyelundup ke dalam pori - pori tubuhku dan berusaha untuk melumatkan rusukku. Namun akhirnya bunga tidur mendekapku.

Ini aku Wayan seorang plakon drama kehidupan di dunia ini. Aku satu di antara yang bernafas yang harus menelan pahitnya hidup. Aku slalu sedih. Tawaku sudah ku lupakan dan senyum ku mengguap entah kemana. Mungkin semua bahagia itu turut masuk ke liang lahat yang telah tertutup tanah. Dan akhirnya tumbuh bersama rumput dan pohon Kamboja yang subur di skeliling makam ibu.

Kamboja bunga yang sangat indah , selama bunda bernafas dulu, kecantikannya bagai bunga kamboja ini. Kulitnya lembut dan putih itu sewarna dengan bunga kamboja. Ibu adalah dewi pencerah hidupku. Namun kesempurnaan nya adalah jaring yang membelenggu ku dan membutakan ku.

Tempat tinggalku jauh dari keramaian kota Bali. Tepat nya di dekat Danau Bratan dan Gunung Catur yang menjulang membelah langit. Nama desa kecil itu adalah desa Candi Kuning . Disana tempat aku memulai hidupku di bawah naungan ibuku dan tentunya ayah ku. Ayah ku seorang bekebangsaan Belanda. Dan ia menyukai sesama jenis. Tepat di ulang tahunku yang ke empat. Orang tuaku bercerai, sepertinya ibu tak tahan di teror kekasih ayah dan kelakuan ayah yang memperlakukan ibu seperti pembantu. Maklum ibu masih ada keturunan bangsawan. Ayah sempat memintaku namun akhirnya aku tetap tinggal bersama ibu. Dan aku dengar ayah kembali ke kampung halaman nya dan menikah dengan belahan jiwanya yang menggelikan itu.

Kata nenek, leluhurku adalah seorang penari yang bertugas menghibur raja. Karena terpikat dengan kecantikan nya maka di jadikan selir.Maka kami masih bagian dari kerajaan. Kalau pertemuan ayah dan ibuku juga dengan tarian ceritanya adalah, ayah ketiak itu ayahku datang ke Bali untuk berlibur. Ibu bertugas menyambut rombongan ayah dengan tari tarian. Akhirnya ayah terpikat dengan kecantikan ibu . Keluargaku memang di takdirkan menjadi penari yang menghibur penontonnya dengan menjual kemolekan tubuh dan senyuman palsu.

Namun aku membencinya. Sungguh aku tidak bisa menari seperti saudara saudaraku yang lain. Bakat ibu ku sama skali tidak menyentuhku dan tidak membaur dengan pribadai ku. Sungguh sangat menyakitkan.

Keluarga ku sangat mendikteku. Aku seorang murid yang slalu salahdi mata sang guru. Mereka menekan ku. Mereka menyuruh ku menyerupai ibu. Terutama nenek ku. Ia begitu menuntutku untuk menjadi ibu. Ibu yang cerdas, mandiri,dan tentunya pandai menari. Mungkin beliau belum mengikhlaskan kepergian ibu. Ibu memang orang paling sempurnanya di mata nenek.

“Yan !!! Wayan bangun ayo latihan!”

Alam sadar menarikku. Bayangan mama segera hilang. Pelatih tari ku datang. Aku ogah ogahan jalan menuju pendopo untuk berlatih. Ingin rasanya aku mencabut nyawaku sehingga aku tidak perlu mengikuti latihan tari yang menyiksaku. Aku depresi. Semua kegiatan begitu mencekik ku.

Pak Ketut terlihat luwes menari dan mencaci maki muridnya yang slalu salah dan terlihat bodoh dengan gerakakn badan nya yang kaku. Selalu saja aku terkena cibiran pedas nya karena aku tak seluwes ibuku. Pertama tama tersa menyakitkan namun sekarang aku lebih baik menutup mata akan hal itu. Biarkan ia memuji saudara saudaraku yang lain. Ia memberi tau kami bahwa sebentar lagi akan ada pementasan dan seperti biasa aku ada di tempat cadangan . Aku menerima itu yang pentingmasih ada harapan tampil dan membanggakan ibu.

Hari melewati ku begitu cepat. Ia mengantarkan ku pada 13 Juni. Pak Ketut menyuruh kami berkumpul. Hari ini adalah hari pementasan tarian kami. Aku tetap berdiam menjadi cadangan. Mungkin Tuhan adil, salah satu saudara ku jatuh sakit. Akhirnya aku memulai pemanasan. Aku tersenyum senyum yang gila! Senyum yang menantang maut.

Suara gamelan menari nari lincah di telingaku. Malam itu aku berlaga. Tak lupa aku memasukan sebuah jimat. Jimat yang mengkilap yang sangat hebat.

Aku naik dan berlaga. Melanggak lenggok seperti kesurupan karena geraka ku sungguh molek.Senyuman yang ter obral di wajah ku adalah senyum penyambutan tamu dan menyongsong maut. Pertengahan lagu aku berjalan ketengah. Tersenyum palsu. Tak lama aku mengeluarkan jimat perk itu. Tepat terkena sinar bulan memantulkan keagungannya dan tak lama ia tlah menghantarku bertemu ibuku tepat di akhir lagu.

Sabtu, 14 Agustus 2010

...

Ketika suara hati berkata jangan masuk rumah orang sembarangan. Namun entah diri menarik untuk mengetahui siapa penghuni nya, namun ternyata orang itu seolah membaca pikiranku, pintu itu berderit dan aku mulai masuk kedalamnya. Penglihatan ku menjajah ke seluruh ruangan  memerhatikansetiap detil kumuh yang penuh bercak darah. Kaki kembali menginjakan langkah ke dua ke tiga dan seterus nya jemari ku menyatu dengan tlapak tangan menyatukannya dalam sunyi karena telah di basahi oleh butir butir air.

     Sampai aku pada sebuah kamar yang tenggelam oleh gelap. Pancaindra seolah mati tak berfungsi lagi.Bulu halus di tangan ku menggelitik ku entah aku merasa berputar dan aku jatuh terduduk. Dalam kegelapan itu muncul sebuah cahaya kecil entah itu apa, cahaya memanggil ku lembut tubuh ku terseret oleh rasa ego ingin tau. Dan akhirnya pintu penghalang kembali terbuka dan di dalam nya cahaya hanya mengambil sedikit jatah nya. Nenek itu duduk termenung sendiri. Hidupnya hanya berkawan sebuah lentera kecil. Melindunginya ketika gelap menerkamnya dan menenggelamkan nya namun tetap saja jalan hidup sudah hilang tertelan waktu.

langkah ku memaksa ku untuk menghampirinya dan memanggilnya, nenek itu melihat ku dia diam dan tersenyum ujung ujung pipinya yang keriput membentuk bulan sabit di pipinya. aku ikut tersenyum dia menyuruh ku duduk dan aku mengikuti nya entah apa yg terjadi dengan ku, aku mengikuti semua pintanya, seperti memijat kaki nya dan mendengar segelintir cerita hidupnya. Nenek ini sudah lama tidak melihat cahaya yang indah dia sudah terlarut dalam sepi dan gelap dia makan dari orang sekitar yang mengetauhi dia ada dan kehidupan nya hanya dengan lentera jiwa nya, dia akan begini sampai waktu memanggil nya.

     Ku mau keluar dari kesunyian itu dan pamit namun nenek itu menahan ku dia menyuruhku tinggal dan aku mengia kan itu.  Aku di antar nya ke sebuah ruang yang kumal namun cukup layak di situ ada  sebuah kasur kecil tampak sudah lama tidak mendapat tuan. Aku pun menaruh semua raga ku di kasur itu dan ku sadari bahwa lampu kamar itu remang. Neneki memberi tau jangan sampai aku melihat apa yang di lakukan di kamar itu pada malam ini. Aku menuruti itu dan terlelap dengan segera.

     Pagi tak terasa pagi dan aku pun tidak yakin kemarin aku tertidur pada malam aku seolah buta.Nenek itu seorang perajut yang handal, pikir ku ketika aku di berikan nya sebuah syal dan nenek itu tersenyum.

Selasa, 22 Juni 2010

tulisan gak penting part2

Tulisan:
Cerpen
Judul:
Tersihir
*sebetulnya ini udh d publikasikan sama temen saya yg nama nya madeline, di blog nya*

--------------------------------------- cerita mulai---------------------------------------------


"Diamlah nak mama sedang berkonsentrasi." omel mama ketika aku memasuki kamar doa mama. Seperti malam malam sebelumnya mama selalu berdiam diri di satu kamar tak berpenghuni dan gelap. Aku sendiri selalu merasa takut ketika memasuki kamar itu. "Itu tidak layak di sebut kamar!" bentak ku dalam hati.

Ketika aku telah pergi entah kemana dalam mimpi ku yang buta, ibuku baru menyudahi ritual bodoh yang sungguh menyita waktu, mengucap beribu kata yang tidak sama sekali ku mengerti. Kurasakantubuh nya yang telah renta di makan waktu pun mulai mendekap ku dengan seluruh kekakuan yang ia miliki.

Panas atau hangat? sulit bagiku untuk mendefinisikan perasaan it. Namun sangat klise kurasa. ku berpikir sejenak dan muncul pertanyaan "ayah.... pergi kemana?" namun ketika angan angan ku sedang pergi , ibu ku masuk dengan senyum manis yang menyayat hati. Ia menyuruh ku pergi membeli beberapa bumbu dapur.

Sengatan sang penguasa siang pun membakar kulitku. Sesampai di suatu kios langgananku, aku pun membeli sejumlah kebutuhsn ysng ibu suruh. Aku pun pulang kaki ku berdarah aku tidak tahan dengan panas jalanan yang menembus kaki ku.

Sesampai di rumah, tetap dalam ke bisuan. Mama mengobati telapakkaki ku. Sudah lama aku tidak menangis, sungguh. Bahkan aku sudah lupa apa itu bahagia,semua seakan lenyap ketika ayah ku pergi. Hilangh bagaikan abu tertiup angin.

Lamunan ku buyar ketika mama menggendong ku masuk ke kamar. Kamar itu gelap karena tidak ada lampu satu pun dan mentari tlah pergi seperti kepergian ayah yang tak kunjung kembali. Sesuatu memnuhi mata ku aku memlih untuk mengabaikan hal itu.

Mata ku terbuka aku bangun mencari mama. Teriakan yang tidak ku kenal. Aku berlari ke dapur melihat sosok yang ku kenal, mama sedang menghisap mata seorang anak gadis. Aku kaget namun selah mulutku terkunci. Dengan penuh kesadaran mama menampar pipiku. Sungguh pikiranku seperti terbawa angin malam yang menimbulakn gemerisk pohon beringin.

Bangun nak tegur mama. "Hari ini telah hilang anak gadis yang manghebohkan kampung" ucap mama. Aku tidak mau tau urusan orang lain. Dan banyak yang bertanya padaku tapi.. tak ada yang ku mengerti.

Tangisan seorang serigala pun mewarnai malam ini mengalun lembut bagaikan nyanyian kematian yang menghampiri desa ini . Malam ini pun mama kembali memasuki kamar itu. Hari ini kamar itu berbau amis darah yang memekakan hidung. Hujan pun mulai bocor dari poro pori langit.

Seorang kakek tua yang rapuh mengetuk gubuk kecil ku."kakek" umpat ku kecil seraya memeluk orang itu. Dia mengecup pipiku yang semerah apel. Dia menanyakan tentang mama, aku hanya berani menunjuk ke arah ruangan itu.

Kakek membukanya pintu kamar itu dan menyerukan nama mama. Seorang perempuan menengok, mata nya merah mulutnya berceceran darah, sampai aku tidak yakin kalo itu mama.Mama ku itu cantik dan muda dan rambutnya pun sehalus sutra.Aku sembunyi di belakang kakek, dia mendorong aku dan kakek keluar.

Kakek menyuruhku masuk kamar.Kamar itu di rajai oleh gelap. Takut tak sama sekali menyetuh perasaan ku. Pandangan ku kosong tak tau melihat ke mana.

Di luar kakek menyalakan api, entah kenapa aku sangat menyukai api . Kakaek ku memasuki kamar itu tanpa basa basi, aku hanya menonton dari celah kecil kamarku , celah itu aku buat untuk sirkulasi udara, kecil memang namun dari pada harus mencium bau dupa??

Di pekarangan rumah ku tangisan awan semakin kencang, kakek berteriak nama mamku sekali lagi. Dia keluar lagi. Ia monster itu kembali menampakan wajah nya dengan darah menghiasi gigi nya. Namun ku dengar di belkang ku seorang laki laki telah berdiri. Dia adalah ayah ku!! "siriakh" Panggil ayahku. Aku tak mampu berkata kata. Aku tak bisa memeluk nya karena semua terlihat transparan. Sejenak semua terasa menyedihkan ayah dan anak yang terpisah ruang dan waktu terlebih dunia.

Aku menangis, aku kembali merasa sedih, senang dan semua yang hilang dulu. Teriakan kakek memecahkan keheningan. Ayah pun hilang namun cuma senyuman nya yang tertinggal di hati ku. Aku memberanikan hati untuk membuka pintu. Aku menyaksikan nya kembali ketika mama menampar kakek ku.

Pag i itu desa ku heboh. "nak coba kamu keluar dan tanyakan apa yang terjadi" suruh mama sambil tersenyum kaku. aku pun mengaangguk, aku lihat kakek masih terlelap. Aku pun meninggal kan gubuk reot itu.

Aku bertanya pada Doni teman sebayaku yang tinggal tak jauh dari rumah ku. Dia berkata bahwa di ladang tempat mama bekerja di temukan mayat seorang laki laki dan anak gadis yang hilang beberapa waktu yang lalu, sungguh dada ku menjadi sesak.

Aku masuk kembali ke rumah ku dan menceritakan semua yang terjadi pada mama ku. Dan mama hanya membelai rambut ku sembari tersenyum. Kakek sudah bangun aku mengajak nya makan dia hanya menjawab dengan tersenyum. Tiba tiba perasaanku gundah, aku langsung mengecek ke halaman belakang rumah ku. Firasat ku benar ayam ku mati.

Kakek pulang, aku kembali kesepian. Penguasa siang berubah warna menjadi kemerahan. Aku duduk bersama mama mentap langit yang berlahan lahan menjadi hitam. "Ma" suaraku memecahkan keheningan. Mama memalingkan wajah nya, mama menatap ku sekarang, tatapan ingin tau yang terpancar dari air muka nya. "Mengapa langit menjadi hitam?" lalu mama menjawab " Langit sedang berkabung sayang, karena di tinggal penhuni nya". Aku pun tenggelam dalam rasa taku. Angin malam pun mempermainkan rambutku dan membelainya.

Aku beranjak masuk di ikuti mama. Aku masuk ke kamar sedangkan mama kembali masuk keruang terkutuk itu. Burung hantu menghiburku, kunang kunang pun seolah tak ingin ku bersedih. Namun jauh di lubuk hati ku, aku masih merindukan ayan. Sesosok orang yang sanggup membuatku bahagia.

Aku bingung mengapa aku bisa lupa akan segala hal bahkan aku lupa akan nama ku sendiri. Aku pun lupa bagaimana cara papa pergi dari rumah. Tiap tiap malam mama memberikan minuman pait yang sangat ku benci.

"Perempuan itu adalah penyihir!!" teriak warga yang berkumpul di depan rumah ku. Mereka membawa obor dan tombak. Malam pun memanas. Siapa dia?? Bukan mama yang ku lihat namun seorang wanita yang tua dan keriput.

Terlambat aku menyadari nya ternyata mama adalah seorang yang jahat dan aku di telah di buat nya tersihir dalam alam bawah sadarku. Mama mengamuk, namun aku tetap berada dalam kamar. Orang orang itu mambakar rumah ku, Aku masih dapat melihat mamku di rantai. Rumah ku hangus dengan segala isinya.

Aku menghampiri mama yang kecantikan nya pudar. Aku yang tak se wujud dengan mama namun aku bahagia aku sewujud dengan papa. Semua orang tampak ingin menghabisi mama. Aku berjalan ke arah mama. Ku usap air mata nya. dan aku pun hilang tanpa bekas. Hanya senyumku yang ku tinggal kan bersama beliau. Sebuah senyum kematian yang menutup cerita kehidupan ku yang penuh dengan drama kepalsuaan hidup..



The end